Jumat, 16 Februari 2024

WORKSHOP MENCETAK GURU AHLI IT

 

Hari ini Sabtu, 18 Januari 2020 dilaksanakan Workshop “MENCETAK GURU AHLI IT DENGAN PEMBELAJARAN BERBASIS ONLINE DAN PENGEMBANGAN RPP KMA 5164 TAHUN 2018”. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh guru MTsN 1 Banyuwangi dan beberapa guru dari MTs. Swasta di wilayah KKM MTsN 1 Banyuwangi ini dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Dalam sambutannya beliau menuturkan ‘bahwa seluruh ASN Kementerian Agama harus banyak bersyukur atas karunia kesejahteraan yang diterima. Salah satu bentuk syukur adalah dengan terus berinovasi meningkatkan kompetensi dan kualitas pembelajaran di kelas’. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengapresiasi kegiatan workshop yang dilaksanakan di MTsN 1 Banywangi ini.

Maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan dan mengupgrade kompetensi para pendidik di MTsN 1 Banyuwangi menjadi lebih kompeten lagi dalam mengelola pembelajaran sehingga dihasilkan ritme pembelajaran yang bermakna.

Dalam kesempatan lain, kepala MTsN 1 Banyuwangi Salman, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa mengingat sekarang kita berada di era mileneal, tak dipungkiri menyebabkan berubahnya pola Pendidikan yang dialami oleh para siswa, sehingga kita perlu membuat suatu terobasan baru supaya dapat mengimbangi perkembangan pola pikir para siswa saat ini. Guru diharapkan memiliki kemampuan 4 banding 1. Jika siswa memiliki kemampuan 1 maka guru harus memiliki kemampuan 4.  Beliau jg menuturkan anak jaman sekarang sudah sangat cerdas dan cekatan dalam pengoperasian IT, oleh karena itu dengan kegiatan workshop ini diharapkan guru-guru madrasah lebih baik lagi dan MTsN 1 Banyuwangi kedepannya bisa menjadi madrasah yang lebih unggul dan lebih baik lagi.

Dalam kegiatan ini mengundanghadirkan pemateri Drs. H. Abdurrachman, M.Pd. selaku Pengawas Madrasah dalam materi Pengembangan RPP KMA 5164 tahun 2018. Pemateri kedua adalah Akhmad Sugiarto, S.Si, ketua MGMP Kurikulum Propinsi Jawa Timur dari kota Malang. Terdapat beberapa materi yang disajikan oleh beliau antara lain, pembuatan soal dengan Quissis, Google Form, Eclipse dan Edmodo.

Salman, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa makin berkembangnya teknologi dan zaman, harus diimbangi denganperkembangan kompetensi guru, jangan sampai guru kalah dengan siswa. Menurut beliau perkembangan generasi millennial tidak selalu harus dipandang buruk, banyak kemajuan dan hal positif dilihat bagaimana meningkatnya rasa percaya diri dari masing-masing siswa, bagaimana kemampuan mereka terutama dalam bidang IT, bahkan bisa jadi meraka dapat melebihi kemampuan guru. Karena itu sangatlah penting bagi guru untuk terus meningkatkan kompetensi mereka terutama di bidang IT.  

Menjawab hal tersebut MTsN 1 Banyuwangi mengadakan Workshop ini dengan Nara Sumber Akhmad Sugiarto, M.Si. dari kota Batu Malang. Dalam kegiatan ini beberapa materi yang disampaikan adalah membuat soal online dengan quissis, google form, eclipse dan edmodo.

 

Perubahan kurikulum dan metode Pendidikan yang kian beragam diterapkan di berbagai sekolah menyebabkan adanya fenomena baru dalam proses Pendidikan anak di rumah maupun di sekolah. “Tantangan dan Solusi Pendidikan di Era Millenial”. besar harapan acara ini dapat menambah motivasi dan inspirasi seluruh peserta yang hadir dalam memperbaiki cara mendidik anak anak generasi millennials.

Dalam sebuah acara Talk Show Dr. Seto Mulyadi, beliau yang kerap disapa Kak Seto “Menurut beliau, penerapan status bahwa anak harus cerdas dalam kelas bukanlah sesuatu yang dapat menjamin tumbuh kembang anak yang baik “Cerdas itu spektrumnya luas, bukan hanya matematika, IPA ataupun Kimia” ujar beliau. Sedangkan banyak ditemui masa kini, para orangtua seringkali salah kaprah dalam mendefinisikan cerdas yang sesungguhnya. Bahwa mendidik anak tidak harus terpaku pada kurikulum pelajaran sekolah yang kerap mengesampingkan hak anak dalam belajar. Karena semua anak pada dasarnya sangatlah cerdas pada bidang yang berbeda. Jika kecerdasannya setiap anak dapat dihargai, maka sang anak tentunya dapat berkembang dengan baik pula.

“Kurikulum di Indonesia terlalu padat, dimana kurikulum Pendidikan kurang berpihak pada hak anak untuk belajar” imbuh beliau saat menjelaskan kondisi lingkungan belajar anak di era millennial. Menurut beliau terlalu banyak waktu yang dihabiskan dalam mengejar nilai, sehingga tidak ada waktu yang tersisa untuk mendalami hobi, maupun hal-hal yang mereka sukai. “Karena pada dasarnya semua anak suka belajar, maka belajar yang efektif adalah belajar dengan suasana hati yang gembira” ujar Kak Seto. (IF)

0 komentar:

Posting Komentar