Hari ini Sabtu, 18 Januari 2020 dilaksanakan Workshop “MENCETAK GURU AHLI IT DENGAN PEMBELAJARAN BERBASIS ONLINE DAN PENGEMBANGAN RPP KMA 5164 TAHUN 2018”. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh guru MTsN 1 Banyuwangi dan beberapa guru dari MTs. Swasta di wilayah KKM MTsN 1 Banyuwangi ini dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Dalam sambutannya beliau menuturkan ‘bahwa seluruh ASN Kementerian Agama harus banyak bersyukur atas karunia kesejahteraan yang diterima. Salah satu bentuk syukur adalah dengan terus berinovasi meningkatkan kompetensi dan kualitas pembelajaran di kelas’. Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengapresiasi kegiatan workshop yang dilaksanakan di MTsN 1 Banywangi ini.
Maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah
untuk meningkatkan dan mengupgrade kompetensi para pendidik di MTsN 1 Banyuwangi
menjadi lebih kompeten lagi dalam mengelola pembelajaran sehingga dihasilkan
ritme pembelajaran yang bermakna.
Dalam kesempatan lain, kepala MTsN 1 Banyuwangi
Salman, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa mengingat sekarang kita berada di era
mileneal, tak dipungkiri menyebabkan berubahnya pola Pendidikan yang dialami
oleh para siswa, sehingga kita perlu membuat suatu terobasan baru supaya dapat
mengimbangi perkembangan pola pikir para siswa saat ini. Guru diharapkan
memiliki kemampuan 4 banding 1. Jika siswa memiliki kemampuan 1 maka guru harus
memiliki kemampuan 4. Beliau jg
menuturkan anak jaman sekarang sudah sangat cerdas dan cekatan dalam
pengoperasian IT, oleh karena itu dengan kegiatan workshop ini diharapkan
guru-guru madrasah lebih baik lagi dan MTsN 1 Banyuwangi kedepannya bisa
menjadi madrasah yang lebih unggul dan lebih baik lagi.
Dalam kegiatan ini mengundanghadirkan pemateri Drs.
H. Abdurrachman, M.Pd. selaku Pengawas Madrasah dalam materi Pengembangan RPP
KMA 5164 tahun 2018. Pemateri kedua adalah Akhmad Sugiarto, S.Si, ketua MGMP
Kurikulum Propinsi Jawa Timur dari kota Malang. Terdapat beberapa materi yang
disajikan oleh beliau antara lain, pembuatan soal dengan Quissis, Google Form,
Eclipse dan Edmodo.
Salman, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa makin
berkembangnya teknologi dan zaman, harus diimbangi denganperkembangan
kompetensi guru, jangan sampai guru kalah dengan siswa. Menurut beliau
perkembangan generasi millennial tidak selalu harus dipandang buruk, banyak
kemajuan dan hal positif dilihat bagaimana meningkatnya rasa percaya diri dari
masing-masing siswa, bagaimana kemampuan mereka terutama dalam bidang IT,
bahkan bisa jadi meraka dapat melebihi kemampuan guru. Karena itu sangatlah
penting bagi guru untuk terus meningkatkan kompetensi mereka terutama di bidang
IT.
Menjawab hal tersebut MTsN 1 Banyuwangi mengadakan
Workshop ini dengan Nara Sumber Akhmad Sugiarto, M.Si. dari kota Batu Malang.
Dalam kegiatan ini beberapa materi yang disampaikan adalah membuat soal online
dengan quissis, google form, eclipse dan edmodo.
Perubahan kurikulum dan metode Pendidikan yang kian
beragam diterapkan di berbagai sekolah menyebabkan adanya fenomena baru dalam
proses Pendidikan anak di rumah maupun di sekolah. “Tantangan dan Solusi
Pendidikan di Era Millenial”. besar harapan acara ini dapat menambah motivasi
dan inspirasi seluruh peserta yang hadir dalam memperbaiki cara mendidik anak
anak generasi millennials.
Dalam sebuah acara Talk Show Dr. Seto Mulyadi,
beliau yang kerap disapa Kak Seto “Menurut beliau, penerapan status bahwa anak
harus cerdas dalam kelas bukanlah sesuatu yang dapat menjamin tumbuh kembang
anak yang baik “Cerdas itu spektrumnya luas, bukan hanya matematika, IPA
ataupun Kimia” ujar beliau. Sedangkan banyak ditemui masa kini, para orangtua
seringkali salah kaprah dalam mendefinisikan cerdas yang sesungguhnya. Bahwa
mendidik anak tidak harus terpaku pada kurikulum pelajaran sekolah yang kerap
mengesampingkan hak anak dalam belajar. Karena semua anak pada dasarnya
sangatlah cerdas pada bidang yang berbeda. Jika kecerdasannya setiap anak dapat
dihargai, maka sang anak tentunya dapat berkembang dengan baik pula.
“Kurikulum di Indonesia terlalu padat, dimana
kurikulum Pendidikan kurang berpihak pada hak anak untuk belajar” imbuh beliau
saat menjelaskan kondisi lingkungan belajar anak di era millennial. Menurut
beliau terlalu banyak waktu yang dihabiskan dalam mengejar nilai, sehingga
tidak ada waktu yang tersisa untuk mendalami hobi, maupun hal-hal yang mereka
sukai. “Karena pada dasarnya semua anak suka belajar, maka belajar yang efektif
adalah belajar dengan suasana hati yang gembira” ujar Kak Seto. (IF)








0 komentar:
Posting Komentar